Mbah Kadimun, Sang Penyelamat Alat Musik Tradisional
Gamelan adalah seperangkat alat musik tradisional khas Jawa.Keistimewaan
alat musik Gamelan Jawa sendiri adalah cenderung bersuara lembut, seperti menghadirkan
suasana ketenangan jiwa dan selaras dengan prinsip hidup masyarakat Jawa pada umumnya.
Gamelan secara etimologi berasal dari bahasa Jawa yakni “gamel’ yang berarti menabuh/memukul,
dan akhiran “an” yang menjadikannya kata benda. Jadi gamelan sendiri diartikan memukul
atau menabuh benda-benda. Daerah Jawa Timur
juga terdapat gamelan dengan cirri khas yang tersendiri pastinya lebih khusus dibandingkan
dengan gamelan jawa lainnya. Sebenarnya cara memainkannya sama, yang
dikhususkan disiniialah bahan bakunya.
Gamelan berasal dari Jawa Timur, tepatnya daerah Ponorogo memiliki kekhasan
tersendiri dalam hal bahan bakunya. Bahan baku Gamelan Ponorogo terbuat dari bahan
steinlis. Pengrajin Gamelan Ponorogo sangatlah langka. Hingga kini yang masih bertahan
senimannya adalah seorang kakek bernama Kadimun. Orang-orang biasa menyebutnya Mbah
Kadimun.
Mbah Kadimun. Sesosok yang bias dikatakan sebagai penyelamat alat musik
tradisional di tengah Gencarnya Alat Musik Kontemporer. Mbah Kadimun tinggal di
daerah Purbosuman, Siman, Ponorogo. Mbah Kadimun lahir 3 tahun setelah
Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1948. Dimana pada saat itu Indonesia sedang
mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Sekutu. Mbah Kadimun tinggal bersama putranya.
Namun, karena kebiasaannya telah bekerja sejak dulu, Mbah Kadimun tidak bisa jika
hanya diam saja di rumah. Sehingga, untuk mengisi hari-harinya, Mbah Kadimun menyibukkan
diri dengan membuat Gamelan di rumah. Sampai saat ini Mbah Kadimun masih giat dalam
membuat Gamelan, untuk kemudian dijual kembali.
Mbah Kadimun berjualan gamelan sudah lama, sejak usia mudanya. Ciri
khas dari gamelan buatan Mbah Kadimun adalah bahannya. Mbah Kadimun menggunakan
baja tahan karat atau biasa disebut dengan stainless
steel. Saat ini jarang sekali dijumpai gamelan dengan bahan stainlees steel. Kebanyakan gamelan
jaman sekarang terbuat dari bahan yang mudah berkarat, sebab saat ini susah untuk
mendapatkan bahan steinless steel serta
bahannya yang mahal. Mbah Kadimun membeli Steinless
steel dengan harga Rp. 60.000,00per kilo. Dari satu kilo steinlesssteel Mbah kadimun dapat membuat
5 gamelan kecil dengan ukuran kurang lebih 35 cm..Kemudian Mbah Kadimun menjual
gamelan tersebut dalam bentuk jadi dengan kisaran harga dari yang paling murahmulai
50 ribu rupiah.
Dalam proses membuat gamelan, Mbah Kadimun juga menimbang nada yang
dihasilkan dari gamelan buatannya. Untuk mendapatkan nada sesuai yang
diinginkan, Mbah Kadimun harus memilih steinlees
steel dengan ketebalan sedang, kurang lebih sekitar 4 – 6 mili meter. Jika terlalu
tipis untuk menyesuaikan nadanya mudah, namun suaranya gembreng atau tidak enak.
Sementara jika terlalu tebal, nada yang dihasilkan akan hamper bening dan enak didengar,
namun sussah dalam menyesuaikan nadanya. Gamelan buatan Mbah Kadimun ini memang
dijamin menghasilkan suara yang bagus mengingat bahan baku yang digunakan berbeda
dari pembuatan gamelan biasanya, serta pertimbangan nada yang telah dilakukan oleh
Mbah Kadimun dalam proses pembuatan gamelan. Selain Mbah Kadimun ahli dalam membuat
alat musik gamelan, Mbah Kadimun juga mahir dalam memainkan alat musik tersebut.
Mbah Kadimun sangat ahli memainkannya terutama dalam mengiringi lagu-lagu daerah,
seperti Lumbung Deso, Caping Gunung, dan Pepiling.
Sebagian besar dari peminat gamelan buatan Mbah Kadimun adalah dari
kalangan orang yang mencintai seni. Jadi harga-harga gamelan buatan Mbah Kadimun
tidak bisa dipastikan secara jelas. Mengingat orang-orang seni tidak setiap saat
membutuhkannya. Sebenarnya Mbah Kadimun menggeluti profesi ini bukanlah sebagai
hasil utama untuk kehidupan melainkan kecintaannya pada dunia seni dan turut sertanya
dalam melestarikan budaya Indonesia yang sudah jarang dimainkan.
Gamelan jarang diminati untuk masyarakat awam terkadang sesekali mereka
membelinya untu khiasan dirumah. Bahkan terkadang Mbah Kadimun pulang dengan tanpa
ada gamelan yang terjual. Walaupun begitu Mbah Kadimun tetap membuka stand penjualan gamelan setiap hari minggu
di Jalan Suromenggolo atau biasa disebut dengan jalan Baru dalam kegiatan Car Free Day (CFD). Selain disitu, Mbah Kadimun
biasanya juga menjajakan gamelan di Pasar Ayam. Pasar Ayam ini tidak buka setiap
hari. Hanya hari-hari tertentu saja, yaitu hanya pada hari legi (harijawa) tepatnya 5 hari sekali. Tak jarang Mbah Kadimun memainkan
gamelannya untuk menarik perhatian orang. Sesekali orang yang berlalu lalang berhenti
untuk melihat dan menikmati alunan nada yang dihasilkan dari gamelan yang
dipukul oleh Mbah Kadimun.
Sungguh hebat Mbah Kadimun, dalam keistiqomahannya menjaga kelestarian
budaya Negara Indonesia. Mbah Kadimun tetap semangat dalam menjajakan gamelan
meski terkadang pulang dengan tangan kosong. Bahkan kata Mbah Kadimun gamelan
ini memang tidak bisa diandalkan untuk hasilnya. Syukur kalau terjual, dan tidak
apa-apa jika tidak terjual sama sekali. Karena hubungannya bukan hanya dengan masyarakat
biasa, yaitu dengan seniman. Tak jarang Mbah Kadimun mendapatkan orderan membuat
alat musik gamelan. Akhir-akhir ini Mbah Kadimun mendapat orderan dari kelompok
seni daerah Malang, Surabaya, dan bahkan ada yang dari luar pulau Jawa, yaitu
Kalimantan. Orderan tersebu tmenginginkan Mbah Kadimun untuk
membuat sekitar kurang lebih 20 alat musik gamelan. Namun, sangat disayangkan Mbah
Kadimun belum bisa membuatkan pesanan tersebut. Saat ini orderan masih ditahan belum
pada proses penggarapan. Semua itu dikarenakan bahan baku yang saat ini langka dan
sulit untuk dicari. Mengingat bahan baku stainless
steel memiliki harga yang cakupan terhitung sangat mahal. Mbah Kadimun hanya
menahan orderannya bukan untuk menolaknya. Sampai saat ini Mbah Kadimun masih berusaha
dalam tahap pencarian bahan baku. (Jurnalistik Online)

Komentar
Posting Komentar