Merosotnya Motivasi Belajar Sebab Jatuh Cinta
Kata-kata cinta sudah tak asing lagi terdengar terutama di kalangan
mahasiswa yang usia umumnya keluar dari masa remaja dan masuk pada fase dewasa.
Dan masalah cinta umumnya timbul pada
tahap perkembangan dewasa awal, pada tahap ini biasanya seseorang memulai
langkah lebih lanjut untuk berhubungan dengan lawan jenis dan hubugan itu
kaitan erat dengan namanya cinta. Menggabungkan kata-kata untuk menjadikan
sebuah definsi cinta sangatlah sulit. Definisi menurut Robert Heinlein yaitu
cinta adalah suatu kondisi dimana kebahagiaan individu yang dicintai tersebut
sangat penting bagi diri orang yang mencintai. (Irmawati dan Saragih, 2005).
Dikatakan sangat penting karena tak jarang orang yang merasakan cinta rela
berkorban melakukan apapun demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Ada 6 gaya
cinta yaitu eros (cinta romantis), ludos (cinta main-main), strong
(cinta persahabatan), mania (cinta posesif), pragma (cinta
realistis), agape (cinta pamrih). Umumnya gaya cinta yang dimiliki oleh
remaja tahap akhir yaitu agape. Gaya cinta ini adalah orang yangberprinsip rela
melakukan apapun demi sang pasangan (Risky dan Fathul, 2016).
Penelitian oleh Kanin, Davidson, dan Sheck menunjukan bahwa orang
yang sedang jatuh cinta akan mengalai perasaan-perasaan yang sifatnya pskologis
dan diikuti pula oleh beberapa reaksi fisiologis. Diantara reaksi-reaksi tersebut seperti
jantung berdebar lebih keras, tangan menjadi dingin dan keringatan, serta wajah
yang memerah. Selain sensasi fisik ada juga secara psikologis, orang yang
mengalami jatuh cinta perasaannya akan lebih keranah selalu merasa bahagia. Alasan
seseorag mengalami jatuh cinta dijelaskan melalui teori assortative mating yang
menyatakan bahwa orang bisa jatuh cinta karena adanya kesamaan dengan orang
yang merasa ia cintai (Irmawati dan Saragih, 2005). Daya tariknya adalah dari
adanya kesamaan dan kemiripan, diungkapkan bahwa sangat menyenagkan ketika seseorang
menemukan orang yang mirip dengannya dan saling berbagi asal-usul, minat, dan
pengalaman yang sama. Semakin banyak persamaan, semakin merasa saling menyukai (Risky
dan Fathul, 2016).
Rubin menyatakan bahwa cinta akan mempengaruhi pikiran, perasaan,
dan perilaku individu (Irmawati dan Saragih, 2005). Karena pikiran tak lagi
kembali focus dengan tujuan pribadi tapi ada orang lain juga yang harus ia
bahagiakan. Perasaan jika belum bisa mengontrol maka akan lebih menjadi was-was
dengan orang yang dicintai karena merasa khawatir dan timbul rasa cemburu
ketika sedang bersama lawan jenis yang lain. Fromm mengemukakan rasa cita
berkembang dari kesadaran akan keterpisahnnya dari yang lain, dan kebutuhan
untuk mengatasi kecemasan itu melalui suatu persekutuan dengan yang lain (Atrup
dan Yualita, 2018). Selain pengaruh pada pibadi seseorang yang jatuh cinta. Jatuh
cinta juga member pengaruh pada perihal lainnya akademisi misalnya. Pada aktivitas
akademik akan berpengaruh pada konsentrasi dan motivasi belajar. Kebanyakan dari
orang yang jatuh cinta merasa lebih terlihat
bersemangat dalam motivasi belajarnya, dibalik itu mereka sebenarnya tidak
ingin mendapat nilai jelek dan nantinya merasa malu pada orang yang
dicintainya. Alhasil motivasi yang diberikan dari rasa jatuh cinta untuk
motivasi belajar sangatlah sedikit karena tujuan sebenarnya hanya kepada orang
yang dicintainya bukan terkusus pada motivasi belajarnya. Karena hakikat
nyatanya orang yang jatuh cinta tidak ingin mengecewakan orang yang
dicintainya.

Komentar
Posting Komentar